Air Mata Kesedihan

Air Mata Kesedihan – MH17 dalam Kenangan
Terbang keranda dari Amsterdam,
Kuala lumpur tempat itulah destinasi;
Sejarah hitam tiada mudah dipadam,
Perginya warga sama ditangisi.
Keranda diusung perajurit negara;
Keluarga menanti tangis sedan;
Mulut rakyat sama berbicara.
Itu tanda jenazah di simpan.
Kembali jasad bersama keranda,
Air mata pilu sudahlah kering;
Anak kecil hilang gurau senda,
Ayah tercinta ke negeri asing.
Malaysia berduka menempah peristiwa,
Pesawat di tembak hancur berderai;
Negara berduka hentilah tawa,
Al-fatihah dikirim untuk yang bercerai.
Kalau takdir sudah berbicara,
Apakah daya kekuatan insan?
Hidup ini janganlah lara,
Jasad pergi berbatu nisan.
Penghormatan negara sudah berbicara,
Itu tanda negara menangis;
Anak kecil pilu dipaut sengsara,
Ayah pergi penuh tragis.
Anak kecil bergelar piatu,
Ayah tua kehilangan anak;
Itu takdir Allah Yang Satu,
Ini peristiwa Allah berkehendak.
Jasad terbujur sudah disemadi,
Penuh tragedi di lipatan sejarah ;
Sejahteralah roh di alam abadi,
Damailah di sana semoga mudah.
MH17 sejarah kelam tersurat,
Tidak mudah hilang di lipatan sejarah;
Sejahtera roh itulah hasrat,
Bersama memohon keampunan Allah.
Kita yang hidup ambillah hikmah;
Dosa berlimpah rahmat menghilang;
Hari dilalui biarlah berisi gundah,
Keberkatan diminta janganlah hilang.
23 Ogos 2014
27 Syawal 1435
HARI BERKABUNG NEGARA

Comments

Popular posts from this blog

Berbalas Pantun (3)

Pantun Hujan Dinanti Sudah Tiba

Kapal Berlayar Mencari Dermaga